Jawaban singkat: dua strategi yang didukung penelitian tentang belajar adalah menyebar waktu belajar dan berlatih mengambil kembali informasi dari ingatan. Jadi, belajar 30 menit pada beberapa hari sering lebih masuk akal daripada menumpuk semuanya pada malam sebelum ujian.
Institute of Education Sciences (IES) melalui What Works Clearinghouse merekomendasikan agar pembelajaran penting diulang setelah jeda dan menggunakan kuis untuk membawa kembali materi ke dalam ingatan.
1. Jangan menunggu sampai malam sebelum ujian
Membaca empat bab sekaligus pada malam terakhir mungkin membuat materi terasa familiar. Namun, rasa familiar bukan selalu tanda bahwa kita benar-benar bisa menjelaskan atau mengerjakannya.
Coba bagi materi:
- Senin: konsep dasar,
- Selasa: latihan singkat,
- Kamis: ulang materi Senin,
- Sabtu: kuis diri,
- beberapa hari kemudian: ulang bagian yang masih salah.
Strategi ini disebut spaced practice atau latihan yang disebar dari waktu ke waktu.
IES menyarankan agar materi penting ditinjau kembali setelah jeda, bukan hanya sesaat setelah pertama dipelajari.
2. Tutup buku dan coba ingat
Setelah membaca satu halaman, tutup buku lalu jawab:
- Apa tiga hal terpenting yang baru saya baca?
- Bisakah saya menjelaskannya tanpa melihat catatan?
- Jika ini soal, bisakah saya mengerjakannya sendiri?
Kegiatan seperti ini disebut retrieval practice: kita melatih otak mengambil informasi dari ingatan.
IES memberikan dukungan kuat untuk penggunaan kuis sebagai cara mengekspos kembali siswa pada konten dan membantu pembelajaran bertahan lebih lama.
Kuis di sini tidak harus mendapat nilai. Lima pertanyaan buatan sendiri sudah cukup untuk latihan.
3. Jangan hanya menandai stabilo
Stabilo bisa membantu menemukan bagian penting, tetapi warna kuning tidak otomatis membuat informasi masuk ke ingatan.
Setelah menandai, lakukan sesuatu dengan informasi itu:
- buat pertanyaan,
- buat contoh sendiri,
- jelaskan kepada teman,
- gambar hubungan antarkonsep,
- kerjakan soal tanpa melihat contoh.
4. Gunakan pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”
IES juga merekomendasikan pertanyaan penjelasan yang lebih dalam.
Contohnya, daripada hanya menghafal:
“Fotosintesis membutuhkan cahaya.”
tanyakan:
“Kenapa cahaya dibutuhkan?”
“Bagaimana prosesnya memengaruhi tumbuhan?”
Untuk IPS:
“Apa akibat perubahan ini bagi masyarakat?”
“Mengapa peristiwa A bisa menyebabkan peristiwa B?”
Untuk Matematika:
“Kenapa rumus ini bekerja?”
“Bagian mana dari soal yang memberi petunjuk rumus apa yang harus dipakai?”
Pertanyaan seperti ini memaksa kita membangun hubungan antargagasan.
5. Buat daftar “saya belum bisa”
Salah satu kesalahan belajar adalah menghabiskan waktu pada materi yang sebenarnya sudah dikuasai karena terasa nyaman.
Setelah kuis diri, bagi materi menjadi tiga:
Hijau: saya bisa menjelaskan dan mengerjakan tanpa bantuan.
Kuning: saya hampir bisa, tetapi masih sering lupa atau salah langkah.
Merah: saya belum paham.
Gunakan waktu belajar berikutnya terutama untuk kuning dan merah.
Contoh sesi belajar 35 menit
5 menit: pilih satu target kecil.
Contoh: “Hari ini saya ingin bisa menjelaskan perbedaan zat tunggal dan campuran.”
15 menit: pelajari contoh dan konsep.
10 menit: tutup materi dan lakukan kuis diri.
5 menit: catat apa yang masih salah dan tentukan kapan akan mengulangnya.
Cara ini tidak memerlukan aplikasi khusus.
“Kalau belajar sambil musik bagaimana?”
Tidak ada satu aturan yang sama untuk semua orang. Yang penting adalah hasilnya.
Uji diri sendiri: setelah 20 menit belajar dengan musik, bisakah kamu menjelaskan materi tanpa melihat buku? Jika tidak, mungkin musik tersebut terlalu mengganggu untuk jenis tugas itu.
Kesimpulan
Belajar efektif bukan perlombaan siapa yang paling lama duduk di meja.
Untuk siswa SMP, strategi yang sederhana namun kuat adalah:
- belajar dalam beberapa sesi terpisah,
- sering menguji diri tanpa melihat buku,
- menjawab pertanyaan mengapa dan bagaimana,
- lebih banyak berlatih pada bagian yang belum dikuasai.
Tujuannya bukan sekadar merasa sudah belajar, tetapi bisa mengambil pengetahuan kembali saat benar-benar dibutuhkan.